Sejak awal saya punya konsep sendiri dalam mendidik anak, saya ingin anak-anak saya bisa tumbuh dan berkembang dengan alami, mereka harus menikmati masa kanak-kanak mereka sepuas mungkin, mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua ortunya, yang semua tujuan akhirnya adalah mereka bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab dan benar-benar menyadari apa tujuan hidupnya di dunia ini.
Saya nggak pernah memaksakan anak saya harus bisa baca-tulis, ngaji, berhitung dsb di usia dini. Sampai suatu ketika dulu waktu usia Naufal 3th, saya dengar dari teman-teman saya yang punya anak seumur dengan Naufal, mereka sudah bisa ngaji, baca, dan berhitung, sementara Naufal ku masih belum bisa apa-apa. Karena nggak mau kalah dengan anaknya teman-teman saya, saya pun kemudian bergegas ke toko buku membeli kartu membaca, buku iqro dan berbagai peralatan fasilitas untuk mengajarkan Naufal baca, ngaji dan berhitung.
Padahal yang saya lakukan ketika usia Naufal 3th adalah mengajaknya membaca buku cerita. Saya punya banyakkk koleksi buku cerita anak, saya cari yang gambarnya menarik, mudah dipahami dan ceritanya mengandung unsur-unsur pendidikan moral dan pengetahuan. Saya dan Naufal sangat menikmati masa-masa tersebut.
Tetapi masa-masa indah itu sempat ternodai karena telinga saya terlalu 'panas' mendengar omongan kanan-kiri yang menyatakan bahwa anak-anak mereka sudah HEBAT pada usia yang sangat dini. Ya....saya mulai memaksa Naufal untuk belajar. Pada saat itu Naufal belum bisa menerimanya, tetapi tetap saya paksakan.
Beruntung saya punya adik yang sarjana psikologi, ketika dia melihat saya mem-'push' Naufal, dia selalu menentang saya. Adik saya keukeuh surekeuh menyarankan agar Naufal jangan di push seperti itu. Saya yang masih 'panas' malah semakin kebingungan, ada anaknya teman saya yang malah sudah bisa bahasa inggris....wahhh!!!! (saya panik mode on).
Adik saya menyarankan agar jangan terfokus pada harus bisa baca,tulis, berhitung,atau bahasa inggris, tetapi perkuat konsep-konsep dasar, dan anak seusia Naufal adalah waktunya mengajarkan bagaimana bersosialisasi. Kebetulan adik saya aktif di kegiatan yang membimbing anak-anak kecil (salah satunya kegiatan out bond), Naufal sering diajak Om nya ikut kegiatan tersebut (yang isinya cuma bermain dan bermain). Lalu ketika usia Naufal 4 th saya ikutkan kegiatan Pendidikan Anak Salman ITB. Di PAS ITB saya bertemu dengan Kakak-Kakak pembimbing yang luar biasa baik dan telaten. Kegiatan di PAS ITB juga hanya bermain, sambil dikenalkan dengan ibadah sehari-hari. Saya pun banyak belajar dari Kakak-Kakak tersebut.
Naufal sepertinya enjoy dengan kegiatannya. Dan hati saya pun mulai luruh, saya mulai mendengarkan teori-teori yang diterangkan oleh adik saya. Sejak saat itu saya tidak lagi memaksa Naufal.
Sekarang, ketika sudah pindah di Jakarta, ternyata......di luar sana buanyakkk sekali para ortu yang ketakutan dan kebingungan karena anaknya yang masih duduk di TK nggak mau disuruh belajar, jadilah para ortu berlomba-lomba mencarikan anaknya kursus : membaca, menulis, dan berhitung. Karena katanya kalau masuk SD di Jakarta itu ada tesnya, si anak harus sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, bahkan kalau tidak salah ada tes komputernya segala...*gubrak*
Saya sih masih santai saja, saat ini usia Naufal masih 5 th 2bulan, saya berniat memasukkan dia sekolah SD pada usia 7th. Saya ingin dia puasss menikmati masa kanak-kanaknya di TK. Saya ingin ketika saatnya masuk SD dia sudah benar-benar siap. Tetapi saya dan suami memiliki pendapat yang berbeda, suami saya ngotot banget menyekolahkan SD tahun depan disaat usianya 6 th kurang.
Oh iya.....saat ini Naufal sudah pandai mengaji (iqro), dia juga sudah pandai berhitung (penjumlahan dan pengurangan), dan dia sudah bisa membaca 2 suku kata, dan sudah bisa menulis. Semuanya terjadi sangat cepat. Ketika pindah ke Jakarta, mungkin karena dia merasa senang saya sudah nggak bekerja dan kami sekeluarga hidup bersama (ibu-papa-naufal-raditya) dalam 1 atap. Dia yang minta diajari, bukan saya yang memaksa dia. Setiap hari dia belajar sendiri. Sama sekali nggak ada unsur paksaan. Dan pada usia 5 th 2 bulan ternyata secara alamiah dia bisa membaca, menulis dan berhitung, termasuk mengaji.
Namun dalam hati kecil saya, saya ingin Naufal puas bermain di TK, supaya dia matang secara emosi dan setelah umurnya cukup barulah masuk SD. Ah...semoga Papa mau mengerti...aminnn.