Tuesday, March 30, 2010

PINDAH 'RUMAH'

Noor Family pindah rumah ke :


-salam-

Saturday, November 14, 2009

Giginya Sudah Copot 2

Baru 4 bulan kami menjalani kehidupan 'baru' di rumah ini, sudah banyak perubahan yang terjadi pada anak-anak. Mereka itu cepat sekali tumbuh dan berkembang. Setiap detik berubah.

Naufal yang sekarang umurnya 5 tahun 3 bulan. Giginya sudah copot 2 buah, ompong deh...dan sepertinya dalam waktu dekat gigi lainnya pun akan menyusul copot. Wajahnya jadi kelilhatan lucu, tapi Ibu nggak berani bilang kalo wajahnya lucu, soalnya kamu nggak akan pe-de....hehehe... Bagaimanapun juga kamu tetep anak Ibu yang cakepppp kok Sayang! Don't worry yahh.

Kamu tuh anaknya kritis, dan super duper cerewet. Apa mungkin ibu selalu meminta kamu untuk bercerita apa saja tentang yang kamu rasakan ya??....hmmm... Yang jelas kamu selalu cerita tentang perasaan kamu dan apa saja yang telah kamu alami. Juga ketika kamu cerita soal guru menggambar di sekolah. Naufal antusias sekali dengan pelajaran menggambar, guru menggambarnya selain Bi Amel, sekarang dia punya juga guru menggambar di sekolah, namanya Kak Yan. Kamu mendeskripsikan Kak Yan dengan detil sekali, sampai hafal baju yang biasa digunakan oleh Kak Yan setiap kali mengajar...hahahaha..

Oh iya...tanggal 19 November'09 nanti Naufal ikut lomba senam anak-anak TK di Taman Mini Indonesia Indah.
* Ngebayangin repotnya nunggu kamu lomba, sambil bawa Radit, nyupir mobil pula, dsb*...kekekkekkk (banyak ibu-ibu yang nggak mau anaknya ikut lomba karena males ama repotnya, tapi kalo Ibu mah...demi Naufal apa sih yang enggak??...Ntar Ibu bawa ransel berisi pakaian ganti Naufal dan Radit, bekal makanan, cemilan, minum, trus bawa tas kecil di depan untuk kamera, dompet ama HP, sambil gendong Radit dan tangan kanan menggandeng Naufal.....heuheuheu...)

GAMBAROU !!!!




Menyapih dengan Cinta


Sudah banyak saya baca pengalaman para Moms tentang 'Menyapih dengan Cinta', saat itu tak terbayang dan saya nggak mau membayangkan bagaimana nanti cara menyapih Raditya dan bagaimana rasanya menyapih dia. Karena menyusui adalah moment yang sangat-sangat indah dan istimewa buat saya dan Raditya dan saya nggak ingin moment tersebut berlalu.

Bersyukur sekali bisa memiliki kesempatan untuk moment ini, berkah bagi saya menikmati perjuangan memberikan ASI Exclusive untuknya. Rasanya baru kemarin saya menimang dia, menyusuinya secara kejar tayang 2 jam sekali karena pada umur 2 minggu Berat Badannya turun di bawah BB lahir. Sibuk menyiapkan ASI perah untuk persediaan ketika saya kembali bekerja. Menenteng-nenteng tas besar berisi perlengkapan memerah ASI di kantor. Kejar-kejaran stok ASI perah sampai harus berbagi ASI perah dengan sesama teman ibu menyusui di kantor. Membawa termos ASI kemana pun saya pergi, ketika saya harus tugas di luar kantor. Menemaninya ketika ia menderita demam tinggi sampai kejang demam, karena pada setiap kali dia sakit obat utamanya adalah menyusu pada ibunya. Ketika kakinya terkilir dan harus dibawa ke tukang urut pun, dia merasa tenang dan nyaman karena bisa sambil menyusu pada ibunya. Ah...tak terbayang bagaimana kalau saya tidak menyusuinya.

Raditya ku sekarang berumur 2 tahun 4 bulan. Ah...ternyata cepat sekali kau tumbuh Nak! Dan waktunya untuk menyapih pun tiba. Ibu tidak pernah memaksa Radit untuk disapih dari Ibu. Ibu dan Papa sudah sepakat untuk membiarkan kau  menyusu sampai kapan pun kau mau.

Tapi sudah satu minggu ini, alhamdulillah Radit sudah tidak menyusu lagi pada Ibu. Awalnya agak sulit ya Nak! Bukan cuma kamu, tapi Ibu juga sulit. Ya, kita berdua sama-sama berjuang karena waktunya sudah tiba, dan kamu Nak....kamu juga sudah tumbuh semakin besar dan pintar. Ibu dan Papa bangga sekali padamu Nak!

Nggak...nggak pakai pahit-pahit kok, nggak pake ramuan apa-apa, dan nggak diapa-apain. apalagi dipaksa-paksa Saya dan suami hanya memberikan dia pengertian bahwa sekarang dia sudah besar bukan bayi lagi. Dan suami saya sangat sabar menemaninya bermain, membacakan buku dan dongeng-dongeng sebelum tidur.


Tuhan, terima kasih telah memberikan kesempatan pada saya untuk melewati moment yang sangat-sangat -sangat indah ini. Sampai akhirnya saya menyapihnya dengan CINTA. Semoga kau tumbuh menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi banyak orang ya Sayang......amin ya robbal alamin.

Ibu-Papa-Aa Naufal sayangggggggg sekali sama Raditya.


-14 November 2009-


Friday, November 06, 2009

Bento si Papa



Ini dia salah satu menu harian untuk makan siang Papa di kantor. Hm....pengen nulis resep di blog dapur, tapi belon sempet aja, lagi pula saya tuh kalo masak gak pake takaran, aliyas asal cemplang cemplung...hehehe...Oh iya makanan di atas tuh judulnya : Sop Telor Puyuh, Salmon Teriyaki tabur Wijen, dan Telur Dadar . Dikemas dalam termos nasi tahan panas bersama nasi putih, dan kripik tempe. Hm....Slurrrp....yummy deh!

Monday, November 02, 2009

Menstimulasi, Bukan Memaksa Mereka

Masih seputar "Anak Karbitan".

Kayaknya saya dianggap sotoy dan aneh deh sama ibu-ibu di TPA dan TK. Ya gitu deh karena saya terang-terangan menentang anak-anak usia TK dipaksa untuk belajar calistung. Obrolan mereka setiap hari adalah tentang memaksa anak-anak usia dini untuk belajar, dan kebanyakan anak-anaknya gak pada mau belajar...(ya iya lahhh, wong mereka itu kan lagi seneng2nya main).

Memang tuntutan masuk SD di sini sangat berat, yaitu HARUS bisa calistung, bahkan ada tes masuknya segala. Dan ortu mana sih yang nggak stress dengan kebijakan tersebut. Maka tak heran mereka 'memaksa' anak-anaknya belajar sejak dini.

Semua orang punya alasan sendiri-sendiri dan semuanya itu tujuannya demi kebaikan anak-anaknya kelak. Saya pun punya alasan sendiri kenapa saya 'BEDA' dengan kebanyakan para ortu lainnya.

Masa kanak-kanak itu nggak akan terulang kembali, di masa kanak-kanak ini adalah kesempatan kita sebagai ortu memberikan 'warna' untuk kehidupannya kelak.

Anak-anak itu cerdas kok, pinter-pinternya kita menstimulasi mereka, bukan memaksa.Belajar bukan harus duduk, kaku, lalu masuk ke materi (yang kesannya serius). Kasihan, karena anak-anak mana betah diam berlama-lama seperti itu. Belajar bisa di mana aja, dan bisa sambil bermain, jadi mereka nggak bosen tapi tetep dapet ilmunya. Kalau begitu kan baik anak maupun ortu sama-sama happy. Lagipula belajar itu artinya luas kok, gak sekedar calistung. Justru di masa-masa inilah kita harus memperkuat 'fondasi' mereka dengan mengajarkan 'konsep dasarnya' terlebih dahulu, sehingga jika mereka sudah mengenal konsep2 dasar dengan baik, saya yakin akan memudahkan mereka untuk menerima semua pelajaran di sekolah, termasuk calistung.

Kalau saya ini mah yaaa....saya lebih senang kalau anak-anak belajar dengan perasaan 'happy', bukan karena terpaksa.

Begono loh ibu-ibu (di TPA dan TK)...heuheu...jadi curhat di blog neh, abis kemarin daku dianggap sotoy pisan, beda pendapat dengan para ibu-ibu ituh....hehehehe....

Wednesday, October 28, 2009

Aku Tak Mau Anakku Menjadi Anak Karbitan

Sejak awal saya punya konsep sendiri dalam mendidik anak, saya ingin anak-anak saya bisa tumbuh dan berkembang dengan alami, mereka harus menikmati masa kanak-kanak mereka sepuas mungkin, mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua ortunya, yang semua tujuan akhirnya adalah mereka bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab dan benar-benar menyadari apa tujuan hidupnya di dunia ini.

Saya nggak pernah memaksakan anak saya harus bisa baca-tulis, ngaji, berhitung dsb di usia dini. Sampai suatu ketika dulu waktu usia Naufal 3th, saya dengar dari teman-teman saya yang punya anak seumur dengan Naufal, mereka sudah bisa ngaji, baca, dan berhitung, sementara Naufal ku masih belum bisa apa-apa. Karena nggak mau kalah dengan anaknya teman-teman saya, saya pun kemudian bergegas ke toko buku membeli kartu membaca, buku iqro dan berbagai peralatan fasilitas untuk mengajarkan Naufal baca, ngaji dan berhitung. 

Padahal yang saya lakukan ketika usia Naufal 3th adalah mengajaknya membaca buku cerita. Saya punya banyakkk koleksi buku cerita anak, saya cari yang gambarnya menarik, mudah dipahami dan ceritanya mengandung unsur-unsur pendidikan moral dan pengetahuan. Saya dan Naufal sangat menikmati masa-masa tersebut. 

Tetapi masa-masa indah itu sempat ternodai karena telinga saya terlalu 'panas' mendengar omongan kanan-kiri yang menyatakan bahwa anak-anak mereka sudah HEBAT pada usia yang sangat dini. Ya....saya mulai memaksa Naufal untuk belajar. Pada saat itu Naufal belum bisa menerimanya, tetapi tetap saya paksakan.

Beruntung saya punya adik yang sarjana psikologi, ketika dia melihat saya mem-'push' Naufal, dia selalu menentang saya. Adik saya keukeuh surekeuh menyarankan agar Naufal jangan di push seperti itu. Saya yang masih 'panas' malah semakin kebingungan, ada anaknya teman saya yang malah sudah bisa bahasa inggris....wahhh!!!! (saya panik mode on).

Adik saya menyarankan agar jangan terfokus pada harus bisa baca,tulis, berhitung,atau bahasa inggris, tetapi perkuat konsep-konsep dasar, dan anak seusia Naufal adalah waktunya mengajarkan bagaimana bersosialisasi. Kebetulan adik saya aktif di kegiatan yang membimbing anak-anak kecil (salah satunya kegiatan out bond), Naufal sering diajak Om nya ikut kegiatan tersebut (yang isinya cuma bermain dan bermain). Lalu ketika usia Naufal 4 th saya ikutkan kegiatan Pendidikan Anak Salman ITB. Di PAS ITB saya bertemu dengan Kakak-Kakak pembimbing yang luar biasa baik dan telaten. Kegiatan di PAS ITB juga hanya bermain, sambil dikenalkan dengan ibadah sehari-hari. Saya pun banyak belajar dari Kakak-Kakak tersebut.

Naufal sepertinya enjoy dengan kegiatannya. Dan hati saya pun mulai luruh, saya mulai mendengarkan teori-teori yang diterangkan oleh adik saya. Sejak saat itu saya tidak lagi memaksa Naufal.

Sekarang, ketika sudah pindah di Jakarta, ternyata......di luar sana buanyakkk sekali para ortu yang ketakutan dan kebingungan karena anaknya yang masih duduk di TK nggak mau disuruh belajar, jadilah para ortu berlomba-lomba mencarikan anaknya kursus : membaca, menulis, dan berhitung. Karena katanya kalau masuk SD di Jakarta itu ada tesnya, si anak harus sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, bahkan kalau tidak salah ada tes komputernya segala...*gubrak*

Saya sih masih santai saja, saat ini usia Naufal masih 5 th 2bulan, saya berniat memasukkan dia sekolah SD pada usia 7th. Saya ingin dia puasss menikmati masa kanak-kanaknya di TK. Saya ingin ketika saatnya masuk SD dia sudah benar-benar siap. Tetapi saya dan suami memiliki pendapat yang berbeda, suami saya ngotot banget menyekolahkan SD tahun depan disaat usianya 6 th kurang.

Oh iya.....saat ini Naufal sudah pandai mengaji (iqro), dia juga sudah pandai berhitung (penjumlahan dan pengurangan), dan dia sudah bisa membaca 2 suku kata, dan sudah bisa menulis. Semuanya terjadi sangat cepat. Ketika pindah ke Jakarta, mungkin karena dia merasa senang saya sudah nggak bekerja dan kami sekeluarga hidup bersama (ibu-papa-naufal-raditya) dalam 1 atap. Dia yang minta diajari, bukan saya yang memaksa dia. Setiap hari dia belajar sendiri. Sama sekali nggak ada unsur paksaan. Dan pada usia 5 th 2 bulan ternyata secara alamiah dia bisa membaca, menulis dan berhitung, termasuk mengaji.

Namun dalam hati kecil saya, saya ingin Naufal puas bermain di TK, supaya dia matang secara emosi dan setelah umurnya cukup barulah masuk SD. Ah...semoga Papa mau mengerti...aminnn.

Monday, October 19, 2009

Akhrinya Bisa Menikmati....

Setelah melalui proses menyesuaikan diri, akhirnya saya mulai terbiasa dengan 'HIDUP' saya yang baru ini. Menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bebersih, masak, ngurus anak dan seterusnya dan seterusnya.

Lama nggak menyambangi dunia maya, sempat membuat saya merasa kesepian dan kehilangan teman. Habis mau gimana, saya mustinya bersyukur karena suami mengabuklan keinginan saya memasang jaringan internet di rumah, hanya kekurangannya, setiap kali mau onlen harus ribet dulu masang-masang kabel, dan nggak boleh ketahuan anak-anak, soalnya mereka pasti ngoprek laptop dan kabel-kabelnya. Belum lagi saya selalu nggak punya waktu untuk onlen karena kesibukan saya di rumah. Dan benar saja, setelah sekian bulan nggak onlen, dan saya sekarang bisa onlen lagi....saya udah ketinggalan banyak.

Sejak pindah ke sini saya nggak pernah kemana-mana. Saya belum pe-de bawa mobil sendirian, takut nyasar soalnya, si Papa juga blum punya waktu untuk ngajarin saya bawa mobil ngapalin jalan di jakarta. Rute saya setiap hari hanyalah rumah-sekolah-rumah-TPA-rumah. Seminggu sekali paling banter ke mall dekat rumah, itu pun disupirin suami.

Sempet rindu banget sama Bandung. Di Bandung saya biasanya menjelajah ke sana kemari, tanpa takut nyasar, mo cari apa aja hayuuu.....

Tapi, sudahlah...mari kita hadapi saja yang ada saat ini. Stok sabar dan maaf harus punya buanyakkkk sekali. Kalau udah bisa menerima keadaan apa adanya ya akhirnya bisa dibikin enjoy. Kudu sabar...sabar dan sabar.

Oh iya, memangnya aneh ya kalau saya nggak punya pembantu ? Hampir semua tetangga saya setiap kali ketemu ma saya selalu tanya, kenapa nggak pake pembantu???? Mungkin mereka risih melihat saya selalu repot ngurus rumah dan anak-anak sendirian. Tapi saya sendiri berusaha enjoy tuh. Ah, lama-lama juga mereka akan terbiasa melihat kerepotan saya ini...hehehehe.....

Kenapa nggak mau pakai pembantu yang nginep di rumah? Karena saya males ribet. Tau nggak, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, saya merasakan kebebasan ketika libur lebaran kemarin. Biasanya menjelang akhir liburan saya selalu kelimpungan mencari pembantu atau membujuk agar pembantu saya mau tetap bekerja dengan saya, maka libur lebaran tahun ini saya terbebas dari hal-hal tersebut.

Repot, capek, kurang tidur, kudu suabarrrrrr adalah saya saat ini. Semoga Allah yang Maha Pengasih menjauhkan saya dari rasa bosan...aminnn.

Gigi Naufal Copot

Untuk yang pertama kalinya giginya Naufal copot. Yang copot gigi depan bawah. Kejadiannya semalam, waktu dia lagi makan kue. Ketika tau giginya copot, Naufal malu...dia bolak-balik liat ke cermin sambil merengek besok nggak mau sekolah. Pas ditanya apa alasannya, jawabnya karena malu sekarang mukanya jelek karena giginya ompong. Hehehehehe.

Alhamdulillah, setelah dibujuk rayu, akhirnya Naufal mau kesekolah keesokan harinya.

Horreeee.....Dapurku Bersih

Ini kejadiannya setelah balik dari libur lebaran. RUmah ditinggal cukup lama, pas balik lagi ke rumah, ternyata ada 'sesuatu' di atas eternit dapurku. Singkat cerita, ada tikus mati di atas sana, mana lokasinya cukup strategis, yaitu di tengah-tengah tempat saya biasa memasak, banyak perabotan an lemari bahan makanan.

Di lokasi tersebut selama hampir seminggu hujan bilatung dari atap eternit....Kebayang donk!!! Itu bilatung gendut-gendut berebutan jatuh ke dapur saya. Ihhhhh....jijay banget deh!
2 minggu lamanya saya mogok masak, duhhhh...kesiksa rasanya setiap kali harus masuk dapur.
Karena gak ada yang bisa dimintai tolong untuk membongkar eternit, ya saya hanya bisa pasrah.

Seminggu setelah kejadian tersebut, hujan bilatung pun reda dengan sendirinya (udah kering kali ya). Dan si bilatung menjijikan itu berubah menjadi lalat. Ya, fase selanjutnya dapur saya selama 1 minggu menjadi sarang lalat.

Barulah hari Minggu kemarin Papa memanggil tukang untuk mengganti eternit tersebut. Alhamdulillah, sekarang dapur sudah bersih dan saya sudah memulai aktifitas seperti biasanya. Thanks a lot Papa !!!

Sunday, October 11, 2009

Naufal si Pintar Bergaul Vs Raditya si Pemberani

Alhamdulillah nggak ada masalah buat Naufal menjadi anak baru di sekolah barunya. Dia mah kalo masalah sekolah rajin bener deh! Sekarang ditambah ngaji tiap sore di TPA mesjid deket rumah. Banyak kemajuan yang dicapainya selama pindah rumah. Dia anak yang mandiri dan rajin sekali belajar. Nggak disuruh pun, setiap saat dia ambil buku tulisnya...coret-coret dibuku itu, bikin-bikin sesuatu dari kertas, digunting, lalu diwarna dan ditempel di bukunya. Dan setiap kali dia bikin sesuatu, pasti ada jalan ceritanya. Kalo udah bosen dengan buku tulis, crayon dan gunting+lem, dia belajar ngaji sendiri, atow dia belajar berhitung sendiri. Lha......ibunya kemana ??? Ibu nya adaaa...lagi sibuk kekekekkkkk.....enggak dink! Ibu suka mengawasi dia dan ngajarin dia juga. Cuma, dia tuh kerajinan, jadi nggak setiap waktu bisa full diajari sama Ibu, ya misal..waktunya ibu masak di dapur, ngawasinnya dari dapur..begitu.

Kalau Raditya....setiap pagi ikut nganter Aa nya sekolah, pulang nganter sekolah jogging deh dia....jangan salah kecil-kecil dia kuat loh larinya, dan dia kepengennya lari, nggak mau diajak jalan, (kalo diajak gendong mah mau bangettt...hihihi). Dia masih kosa katanya udah mulai banyak, soalnya dibandingkan dengan Aa nya Raditya ni termasuk anak yang diam (kakaknya cerewt banget soalnya). Sampe sekarang kalo di suruh nyanyi, taunya lagu Mbah Surip doank. Dia anak pemberani, nggak takut sama apapun kecuali takut ditinggal ibunya pergi. Usianya sudah 2 th 3 bulan tapi masih minum ASI. Saya mau menyapihnya dengan cinta...bukan dengan paksaan ah. Apa-apa ngikut-ikut Aa nya muluw. Cuma dia tuh suka galak sama Aa nya.

Ibu sayang banget sama kalian berdua !!!!!

Oven Baruku

Mana tahan diriku membiarkan si oven bermanis-manis terpajang tanpa tersentuh sedikitpun olehku. Ya..ya..ya... saya sudah membuat beberapa kali kue menggunakan oven itu. Masih perlu pengenalan lebih dalam, karena waktu bikin kue kering kok rada gelap warnanya. Eits, jangan salah yaaa....meskipun rada gelap rasanya teutup enyakkkk, dan anak-anak sukaaa. Yah gimana gak gelap ya, orang lagi baking disambi ini-itu...hihihihi....alesan!!!!

Apa saja yang sudah ku-baking?...Mulai dari cake ultah Naufal, pie, sampe kue kering lebaran udah kucoba.